Syuhada Rabaa
"Syuhada Rabaa" Foto Pengantin Baru Paling Menyedihkan di Mesir Menurut Reuters
Foto diatas adalah salah satu syuhada di antara ribuan yang gugur pada
pembantaian junta military Mesir saat pembumihangusan Medan Rabi'ah
Al-Adawiyah (14/8/2013). Dengan membawa mushaf, sang istri memeluknya
untuk yang terakhir kali. Foto ini oleh Reuters disebut foto pengantin
baru yang paling menyedihkan di Mesir.
Para syuhada telah menunaikan dan membuktikan janjinya dihadapan Allah,
mereka hidup disisiNya dengan penuh kebahagiaan. Yang ditinggal pun
tetap tegar dengan keyakinan bahwa kelak mereka akan dipertemukan
kembali di jannahNYa.
Berikut, salah satu ungkapan istri syuhada, Asmaa Hussein, yang suaminya Amr Mohammed Kassem diantara ribuan syuhada Mesir. Gambarannya mirip dengan foto diatas...
Suamiku, Amr Mohamed Kassem kembali ke pangkuan Tuhannya pada usia 26 tahun.
Ia ditembak peluru tajam di dagunya hingga menembus leher. Ia gugur
ketika mengikuti unjuk rasa di Alexandria, untuk menuntut keadilan bagi
semua yang telah dibantai secara biadab oleh pasukan militer pada
hari-hari dan pekan-pekan sebelumnya di seluruh penjuru Mesir.
Kemarin pagi aku pergi menuju ruang jenazah di rumah sakit terdekat di
Alexandria untuk melihat Amr, sebelum ia dimandikan dan dimakamkan.
Ketika saya tiba di sana, banyak sekali orang menunggu di depan pintu
untuk melihat anggota keluarga mereka yang juga terbunuh pada hari yang
sama.
Teman-teman dan kerabat Amr juga berada di sana. Setelah menunggu
beberapa lama, aku masuk ke dalam ruangan tempat Amr dibaringkan di atas
meja, tertutup selimut panjang. Aku berdiri di sisinya dan membuka kain
yang menutupi wajahnya, dan di sanalah ia, suamiku, kekasihku, rebah
dalam dingin; padahal kurang dari 24 jam sebelumnya aku masih
menyaksikan ia begitu bugar dan bahagia dan penuh senyum.
Lalu aku mencukur jambangnya, sebagiannya masih terasa lembut,
sebagiannya lagi terasa kaku bersama simbah darah yang telah mengering.
Hidungnya juga berdarah-darah dan ada goresan luka di sisi sebelah
matanya, tapi ia begitu indah, bahkan sekalipun dalam kematian -
bergeming seolah sedang tertidur. Lalu aku raba kedua bibir dan pipinya,
dingin terasa.
Aku berdiri di sana agak lama, menatap wajahnya dalam-dalam, dan merasa
seakan hatiku terlindas truk berulangkali. Aku tidak mau menangis
keras-keras namun air mataku mengaliri pipi, dan aku lirihkan kepada
kasihku
"Aku mencintaimu Amr. Aku tahu engkau selalu menginginkan gugur sebagai
syahid, dan engkau telah memperoleh apa yang selalu engkau citakan,
insya Allah, dan aku sangat bangga denganmu. Ya Allah ampunilah segala
dosanya dan terimalah ia sebagai syuhada dan persatukanlah kami kembali
di jannah-Mu kelak. Ya Allah sabarkanlah aku, karena aku tahu itulah
waktu yang sudah Engkau tetapkan baginya, dan karena aku tahu bahwa
dengan kehendak serta kasih sayang-Mu, ia hidup di sisi-Mu sebagai
syahid."
Aku tidak beranjak seinchi-pun dari sisinya sampai aku merasa
benar-benar siap. Aku bahkan tak tahu persis berapa lama aku berdiri di
sana. Hingga kemudian, aku mencium pipinya dan mengatakan kepadanya
bahwa aku akan bersua lagi dengannya insyaAllah, lalu aku menutup
kembali wajahnya dan meninggalkan ruangan.
Dalam shalat Jenazah yang dilangsungkan setelah shalat Ashar, kulihat
ada ratusan orang ikut serta - sahabat-sahabatnya, teman-temannya semasa
sekolah, dan sanak famili.
Ia merupakan sosok yang dicintai banyak orang. Semuanya basah oleh air
mata, kata-kata baik terungkap, dan orang-orang mengatakan syukur
alhamdulillah karena Allah SWT telah menjemputnya dengan cara kematian
terbaik di muka bumi ini.
Kami bersama menshalati dan mendoakannya. Kemudian aku beranjak keluar
menyaksikan kerumunan ratusan orang membopong tubuhnya yang terbalut
kafan menuju ke pemakaman. Para muslimah tidak ikut, kami menunggu
hingga ia dimakamkan dan doa dipanjatkan. Setelah beberapa waktu,
ibundanya, aku, dan kerabatnya yang perempuan berjalan hendak keluar
menuju pemakaman ke tempat ia dikuburkan.
Namun tiba-tiba aku menyadari orang-orang di sekitarku berteriak
kepadaku untuk pergi, lari melalui pintu samping. Aku tidak mengerti apa
yang terjadi saat itu tapi seketika mulai terdengar desing keras di
belakangku, batu-batu dilemparkan ke arah kami, dan orang-orang
berteriak agar para perempuan segera lari.
Maka aku lari dan berlari tanpa menoleh ke belakang. Ketika berlari itu,
aku terkena sebongkah batu besar di bagian pipi, tapi alhamdulillah,
teman-temannya Amr melihatku dan menyuruhku untuk berlari di depan
mereka sehingga mereka berada di belakangku dan menjaga agar tidak
terjadi apa-apa terhadapku.
Gerombolan orang yang menyerang kami itu ialah berandalan preman yang
sebelumnya mendengar kabar bahwa di sana ada pemakaman anggota Ikhwanul
Muslimin (padahal suamiku bukan anggota Ikhwanul Muslimin, ia semata
pria relijius yang meyakini adanya haq dan bathil). Banyak orang
terluka, diantaranya terkena luka tusukan, tetapi sejauh yang saya tahu,
Alhamdulilah tidak ada korban jiwa.
Sebegitu bencinya gerombolan preman itu, bahkan dalam proses pemakamanpun mereka menyerang kami.
Namun kebencian mereka tak berarti apa-apa bagiku, jika musuh Allah
membenci anda, maka itu adalah tanda bahwa Allah ridho, kita di jalan
yang benar.
Wahai kawan, hatiku serasa sakit dan aku tak tahu bagaimana hati ini
bisa begitu sakit. Aku merindukannya setiap kali aku terjaga dan mimpi
tentang dia ketika aku tertidur. Dia adalah suami terbaik dari seorang
wanita. Dia tak pernah berharap banyak, dia sangat baik, murah hati,
lembut dan penuh kasih, tetapi juga kuat dan berani.
Bajunya masih terpaku pada kait di kamar kami, seolah-olah dia akan
berjalan melalui pintu dan mengganti bajun piama sebelum dia tidur.
Temannya memberi saya dompet Amr dan ponsel, tapi hadiah pernikahan yang
hilang, masih tidak tahu di mana itu.
Namun melalui semua ini, aku tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali
Innalillahi wa inna ilayhi raji'un, dan terus berdoa untuknya.
Aku menolak untuk meratap dengan dengan protes kepada-Nya "mengapa" Ia
membawanya atau berpikir "kalau saja dia tidak pergi ke protes pada hari
Jumat, ia akan hidup."
Tidak, itu sudah takqdir bagi Amr untuk kembali ke Allah, aku tahu bahwa
di luar bayangan keraguan. Dan meskipun aku berharap aku punya lebih
banyak waktu dengan dia di dunia.
Aku dengan tulus berharap untuk bersatu kembali dengannya dan menjadi
istrinya, jika Allah mengijinkanku, di surga. Dalam jannah waktu tidak
berakhir, tidak ada takut terpisah dari orang yang Anda cintai. Aku
percaya dengan setiap inci, bahwa cinta kita benar-benar cinta yang bisa
bertahan dari dunia ini ke dunia berikutnya.
Ya Allah, Engkau persatukan kembali Musa dengan ibunya setelah dia
menempatkannya di sungai, ya Allah persatukan kembali Yaqoub dengan
anaknya tercinta Yusuf setelah bertahun-tahun berpisah. Ya Allah Engkau
lah yang mampu menyatukan hati kami kembali di akhirat nanti.
Semalam setelah kami pulang, aku menerima telepon dari seorang teman
kerabat - seseorang yang telah menyaksikan pertama kali apa yang terjadi
pada Amr setelah dia ditembak.
Dia mengatakan kepada kami bahwa pada kejadian itu Amr tidak langsung
meninggal, dia masih hidup untuk beberapa saat. Tangan kirinya memegang
dagunya di mana peluru itu masuk, dan jari telunjuk kanannya naik, dan
dia berkata dengan jelas "Ashhadu anna la illaha ilAllah, wa ana ashhadu
Muhammadun Rasulullah" dan ia memiliki senyum lebar di wajahnya,
seolah-olah itu adalah hari pernikahannya.
Wahai kawan, kata-kata dorongan tidak begitu saja. Aku tak punya apa-apa
selain cinta dan hormat untuk Anda semua, dan sekarang aku tahu jauh
lebih banyak daripada sebelumnya bahwa sebagai umat Islam, meskipun kami
memiliki kesalahan dalam komunitas kami, ketika kami bersama dan
bersatu, kita benar-benar menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan.
Dukungan cinta dan doa telah menyentuhku. Aku pasti akan perlu doa dan dukungan ketika aku kembali ke Kanada insyaAllah.
Aku memohon kepada Allah semoga tetap dikuatkan di jalan-Nya dan tidak
menyimpang dari jalan-Nya, demi aku, anak-anak dan juga demi Amr - untuk
menghormati dia di jalan yang Allah yang telah meridhoinya.
Ya habibi ya Amr... Duhai kekakasihku Amr... Kuberharap bahwa sekarang
jiwamu berada dalam burung hijau dan terbang ke Jannah-Nya, makan dan
minum dari ketentuan dan dekat kepada Allah, di mana kau tidak akan
pernah meneteskan air mata lagi atau pernah merasa rasa kehilangan atau
penderitaan.
Kau adalah cintaku di dunia ini dan insyaAllah setelahnya, kau ada di hatiku selalu, Doa-doaku akan terus teriring untukmu.
Asmaa Hussein
sumber: *sumber: islamedia, dll
http://www.pkspiyungan.org/2013/08/syuhada-rabaa-foto-pengantin-baru.html
Nak Baca Entri Lain? Klik Sini....
-
Tagged for Charity I was tagged by mamamia & Zlaa. Tagging originally started by Idham's blog . He is planning on a noble effo...
-
Sepanjang berada di Jepun, salah satu perkara yang diperhatikan adalah kebersihan bandaraya besar seperti Tokyo. Sejak menjejakkan kaki di L...
-
Inikah adab pelajar zaman sekarang? Apakah nilai adab seorang pelajar di zaman ini? Bukan budak sekolah rendah dan juga bukan budak sekolah ...
Terharu.
ReplyDeleteTak tahu akhir IM bagaimana agaknya nanti...
not sure abt shuhada.. bit. whether its applicable as per the islamic teaching according to Quran.
ReplyDeletemuslim killed muslim =shu hada?
the word shuhada seems over used off late post millenieum.
rgds
john a. baker